MANDUTA – MAN 2 Tulungagung mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) melalui aksi nyata membantu korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Aksi kemanusiaan ini dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026, setelah kegiatan rutin senam bersama yang diikuti seluruh guru, pegawai, dan murid. Usai senam, madrasah menyiapkan kotak sumbangan yang dibalut warna merah putih sebagai simbol persatuan dan kepedulian. Seluruh bantuan yang terkumpul akan disalurkan bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung untuk menjangkau korban yang membutuhkan. Langkah ini menjadi wujud cinta diri dan sesama yang ditanamkan dalam pembelajaran di MAN 2, MAN 2 Tulungagung, dan MAN Tulungagung, serta memperkuat peran madrasah di bawah binaan Kemenag Tulungagung dan Kemenag Jawa Timur.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, sejak pertengahan Agustus 2026 menimbulkan dampak besar. Data BNPB per 22 Agustus 2026 mencatat puluhan korban meninggal, ratusan luka-luka, dan lebih dari 100 ribu jiwa mengungsi. Ribuan rumah rusak, sementara kebutuhan dasar seperti pangan, selimut, tenda, dan perlengkapan higiene masih terus disalurkan melalui jalur udara dan darat. Pemerintah, melalui BNPB dan Kemensos, telah mengirimkan ratusan ton bantuan logistik, termasuk paket sembako, makanan siap saji, obat-obatan, serta santunan bagi korban meninggal dan luka. Dalam situasi ini, setiap uluran tangan dari masyarakat, termasuk dari madrasah, menjadi bagian penting dari gotong royong kebangsaan.
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah menekankan pembentukan karakter yang empatik, peduli, dan responsif terhadap sesama. Melalui aksi penggalangan dana ini, murid tidak hanya belajar teori tentang nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga langsung mempraktikkannya. Kegiatan diawali dengan senam bersama untuk membangun kebugaran dan semangat kebersamaan, kemudian dilanjutkan dengan pengisian kotak sumbangan sebagai bentuk kepedulian konkret. Pembalutan kotak dengan warna merah putih juga dimaksudkan untuk menguatkan pesan bahwa bantuan ini adalah wujud cinta tanah air dan solidaritas antarwarga negara dalam menghadapi musibah.

Kepala MAN 2 Tulungagung, Muhamad Dopir, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bagian dari proses pendidikan yang utuh. “Kami ingin murid memahami bahwa cinta bukan hanya kata, tetapi tindakan nyata. Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, kami mengajak mereka mencintai diri dengan menjaga kesehatan melalui senam, dan mencintai sesama dengan berbagi untuk korban gempa NTT. Semoga langkah kecil ini menjadi amal yang bermanfaat dan menginspirasi madrasah lain untuk bergerak bersama,” ujarnya.
Aksi kemanusiaan ini menjadi pengingat bagi murid MAN 2 Tulungagung bahwa kepedulian adalah kekuatan yang dapat meringankan beban orang lain. Dari lingkungan madrasah, semangat berbagi dapat tumbuh menjadi kebiasaan yang dibawa ke masyarakat. Dengan terus melatih kepekaan sosial, disiplin beribadah, dan kemauan berkorban, murid MAN 2 Tulungagung diharapkan menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara karakter, siap memberi manfaat, dan mengharumkan nama Kemenag Tulungagung serta Kemenag Jawa Timur di mana pun mereka berada.


Komentar Terbaru