MANDUTA – MAN 2 Tulungagung mengawali peringatan Milad ke-36 dengan menggelar apel pembukaan yang berlangsung khidmat dan meriah di lapangan depan madrasah pada Senin, 27 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh murid, bapak ibu guru, serta karyawan MAN 2 Tulungagung sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur atas perjalanan panjang madrasah yang terus tumbuh menjadi lembaga pendidikan unggulan di bawah binaan Kemenag Tulungagung dan Kemenag Jawa Timur. Sejak pagi, suasana madrasah sudah terasa berbeda. Wajah para murid tampak antusias, sementara para guru dan karyawan ikut menyambut momen istimewa ini dengan semangat kekeluargaan yang kuat. Pembukaan milad bukan sekadar seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang perjalanan madrasah, menguatkan kembali tekad bersama, dan menyalakan semangat baru untuk menatap masa depan.
MAN 2 Tulungagung memiliki sejarah panjang yang menjadi fondasi kuat bagi perkembangan madrasah hingga seperti sekarang. Cikal bakal madrasah ini bermula dari berdirinya Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 Tahun swasta di Tulungagung yang pada masa itu lahir dari kebutuhan masyarakat akan lembaga pendidikan agama yang mampu mencetak tenaga pendidik berkualitas. Keberadaan PGA swasta ini mendapat dukungan dari berbagai organisasi Islam, pemerintah daerah, serta unsur pendidikan agama di Jawa Timur. Dukungan tersebut menjadi awal penting bagi perjalanan lembaga ini menuju pengakuan resmi dari pemerintah. Pada 4 Januari 1968, Kepala Dinas Pendidikan Agama Kabupaten Tulungagung mengusulkan agar PGA swasta tersebut dinegerikan, dan usulan itu kemudian diterima. Tidak lama setelah itu, pada 17 Mei 1968 terbit Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 105 Tahun 1968 yang menetapkan lembaga tersebut menjadi PGA Negeri 4 Tahun Tulungagung dengan kepala sekolah pertama Bapak Rebin S. Keputusan ini menjadi tonggak awal penguatan lembaga pendidikan Islam di Tulungagung yang saat itu terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Perjalanan lembaga ini tidak berhenti sampai di situ. Seiring meningkatnya kebutuhan pendidikan dan tuntutan kualitas pembelajaran, pada 3 Agustus 1970 melalui SK Menteri Agama Nomor 166 Tahun 1970, PGA Negeri 4 Tahun Tulungagung berubah menjadi PGA Negeri 6 Tahun Tulungagung. Perubahan ini menunjukkan adanya penyesuaian struktur pendidikan agar lebih sesuai dengan sistem yang berlaku pada masa itu. Kepemimpinan kemudian terus berganti secara estafet, mulai dari Bapak Rebin S. yang memimpin hingga tahun 1971, dilanjutkan oleh Bapak Suja’i Habib pada 1971–1980, kemudian Bapak Sanusi pada 1980–1988, dan kembali dipimpin oleh Bapak Rebin S. pada 1988–1990. Setiap masa kepemimpinan memberikan warna tersendiri dalam pengembangan madrasah, baik dari sisi kelembagaan, pembelajaran, maupun pembinaan peserta didik. Para pendahulu inilah yang meletakkan dasar-dasar kuat bagi tumbuhnya madrasah yang kini dikenal luas di Tulungagung.
Perubahan besar berikutnya terjadi pada masa kepemimpinan Bapak Rebin S. Berdasarkan SK Menteri Agama RI Nomor 64 Tahun 1990 tanggal 25 April 1990, PGA Negeri 6 Tahun Tulungagung resmi beralih fungsi menjadi Madrasah Aliyah Negeri. Perubahan status tersebut dilakukan karena lulusan PGA dinilai sudah mencukupi kebutuhan guru agama untuk tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, sehingga lembaga ini kemudian diarahkan menjadi madrasah aliyah yang lebih luas cakupan pendidikannya. Sejak saat itulah MAN Tulungagung mulai berkembang sebagai lembaga pendidikan menengah yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, keterampilan, serta pembentukan karakter peserta didik. Dalam perjalanannya, madrasah ini terus berbenah, memperluas layanan pendidikan, dan melahirkan banyak lulusan yang berkiprah di berbagai bidang.
Dalam amanat apel, Kepala MAN 2 Tulungagung, Drs. Muhamad Dopir, M.Pd.I., menyampaikan pesan yang menginspirasi seluruh murid agar berani bermimpi besar dan tidak membatasi langkah hanya pada pilihan yang itu-itu saja. Ia mengingatkan bahwa MAN 2 Tulungagung memiliki sejarah panjang dalam melahirkan alumni yang mampu menembus perguruan tinggi ternama di dalam negeri, bahkan hingga ke luar negeri. Menurutnya, prestasi para alumni tersebut harus menjadi bukti bahwa murid MAN 2 Tulungagung juga memiliki peluang yang sama untuk melangkah lebih jauh jika dibarengi dengan kesungguhan belajar, kedisiplinan, dan doa. “Dulu alumni MAN 2 Tulungagung sudah ada yang tembus universitas ternama di Indonesia dan luar negeri. Sekarang giliran kalian untuk melanjutkan jejak itu. Jangan ragu mendaftar ke kampus-kampus besar, karena kesempatan itu terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berusaha sungguh-sungguh,” pesannya di hadapan seluruh peserta apel.
Pesan tersebut terasa mengena karena disampaikan pada momentum milad, saat seluruh warga madrasah sedang menengok kembali perjalanan panjang MAN 2 Tulungagung sekaligus menatap masa depan yang lebih tinggi. Kepala madrasah juga menekankan bahwa usia ke-36 bukan hanya angka, melainkan tanda kematangan untuk terus memperkuat tradisi prestasi, memperluas jejaring, dan menumbuhkan budaya belajar yang unggul. Ia berharap para murid tidak hanya bangga menjadi bagian dari MAN 2 Tulungagung, tetapi juga menjadikannya sebagai pijakan untuk meraih cita-cita yang lebih besar. Dalam suasana apel, amanat itu disambut penuh perhatian, seolah menjadi pengingat bahwa madrasah ini telah membuktikan diri sebagai tempat lahirnya generasi berprestasi yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Setelah apel pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemukulan gong oleh Kepala MAN 2 Tulungagung sebagai tanda resmi dimulainya rangkaian Milad ke-36. Bunyi gong yang menggema di lapangan depan madrasah menambah semarak suasana dan menandai semangat baru keluarga besar MAN 2 Tulungagung untuk menyambut berbagai agenda milad yang telah disiapkan. Momen tersebut menjadi simbol bahwa peringatan hari jadi madrasah ini bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk menggerakkan seluruh warga madrasah agar terus melangkah bersama. Tidak berhenti di situ, kepala madrasah juga menerbangkan balon secara simbolis yang berisi harapan dan cita-cita dari kepala madrasah, guru, serta perwakilan murid. Balon-balon yang terbang ke udara itu seolah membawa doa agar seluruh impian yang tertulis di dalamnya dapat terwujud satu per satu, mulai dari prestasi akademik, pengembangan bakat, hingga cita-cita melanjutkan studi ke perguruan tinggi terbaik. Setelah itu, acara ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh kepala madrasah sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panjang MAN 2 Tulungagung yang telah melewati banyak tahap perkembangan, tantangan, dan prestasi.
Pembukaan Milad ke-36 MAN 2 Tulungagung ini juga menjadi pengingat bahwa madrasah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang pembentukan karakter, penanaman nilai, dan tempat tumbuhnya harapan besar. Dengan hadirnya seluruh murid, guru, dan karyawan, kegiatan ini mencerminkan satu hal penting: bahwa kemajuan madrasah hanya dapat diraih jika semua unsur berjalan bersama. MAN 2 Tulungagung berharap peringatan milad tahun ini menjadi titik awal untuk melahirkan lebih banyak prestasi, memperkuat semangat melayani pendidikan dengan sepenuh hati, serta mengantarkan lebih banyak murid meraih kampus impian mereka. Di usia ke-36, MAN 2 Tulungagung meneguhkan diri sebagai madrasah yang terus bertumbuh, terus berbenah, dan terus menyiapkan generasi yang unggul, berakhlak, serta siap memberi manfaat bagi agama, bangsa, dan negara.


Komentar Terbaru