man 2

MANDUTA – Semangat Hari Santri tidak cukup dimaknai dengan mengenang perjuangan para pendahulu, tetapi juga harus diwujudkan melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Pesan itulah yang ditekankan Kepala MAN 2 Tulungagung, Muhamad Dopir, saat memimpin upacara peringatan Hari Santri pada Kamis, 22 Oktober 2026, di halaman madrasah. Upacara diikuti seluruh keluarga besar MAN 2 Tulungagung dengan khidmat.

Dalam amanatnya, Muhamad Dopir mengajak para murid memahami bahwa perjuangan santri masa kini memiliki tantangan yang berbeda. Jika dahulu para santri turut berjuang melawan penjajah, kini mereka dituntut mampu melawan ego diri sendiri, menjaga kejujuran, serta berani memilih tindakan yang benar meskipun tidak selalu mudah.

Salah satu bentuk perjuangan tersebut adalah menahan diri untuk tidak menyontek ketika ulangan dan tidak mencari jawaban instan saat mengerjakan tugas dari bapak dan ibu guru. Kebiasaan mengambil jalan pintas mungkin terlihat memudahkan, tetapi dapat menghambat proses belajar dan pembentukan karakter. Sebaliknya, mengerjakan tugas dengan kemampuan sendiri akan melatih tanggung jawab, kemandirian, dan kepercayaan terhadap kemampuan diri.

man 2 man 2 man 2

Kepala MAN 2 Tulungagung, Muhamad Dopir, menegaskan bahwa nilai perjuangan santri harus tercermin dalam kejujuran dan kesungguhan menuntut ilmu. “Santri masa kini tidak lagi berjuang melawan penjajah seperti para pendahulu, tetapi harus mampu melawan ego dalam dirinya sendiri. Salah satunya dengan tidak menyontek saat ulangan dan tidak mencari jawaban instan ketika mengerjakan tugas dari bapak dan ibu guru. Jangan sampai keinginan mendapatkan nilai bagus mengalahkan kejujuran. Lebih baik memperoleh hasil sesuai kemampuan sendiri daripada mendapatkan nilai tinggi dengan cara yang tidak benar. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang angka di rapor, melainkan juga tentang membentuk pribadi yang jujur, mandiri, dan bertanggung jawab,” pesannya.

Selain upacara, peringatan Hari Santri di MAN 2 Tulungagung juga dimeriahkan dengan berbagai perlombaan yang mengasah kemampuan, kreativitas, dan kecintaan murid terhadap nilai-nilai keislaman. Sejumlah lomba yang diselenggarakan meliputi Dai, Cerdas Cermat Qur’ani (CCQ), vokal Islami, serta menghias tumpeng. Beragam kegiatan tersebut memberikan ruang bagi murid untuk menunjukkan bakat, memperluas wawasan keagamaan, sekaligus belajar bekerja sama dan menjunjung sportivitas.

Lomba Dai menjadi kesempatan bagi murid untuk melatih keberanian berbicara di depan umum dan menyampaikan pesan kebaikan. Melalui CCQ, murid didorong memperdalam pengetahuan keislaman dan pemahaman Al-Qur’an. Sementara itu, lomba vokal Islami menjadi wadah untuk menampilkan kreativitas melalui seni, sedangkan lomba menghias tumpeng menumbuhkan kreativitas, ketelitian, dan semangat kebersamaan.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya MAN 2 Tulungagung dalam menanamkan nilai keagamaan sekaligus mengembangkan potensi murid di berbagai bidang. Peringatan Hari Santri tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat karakter, membangun kebersamaan, dan menumbuhkan semangat belajar di lingkungan madrasah.

Melalui momentum Hari Santri, seluruh murid MAN 2 Tulungagung diajak menjadikan perjuangan sebagai kebiasaan nyata, dimulai dari hal-hal sederhana: berani berkata jujur, mengerjakan tugas dengan usaha sendiri, menghormati guru, dan tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan. Murid yang hebat bukanlah mereka yang selalu mencari jalan termudah, melainkan mereka yang berani menjalani proses dengan sungguh-sungguh. Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh di MAN 2 Tulungagung, sehingga lahir generasi santri yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan siap memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, serta negara.

Penulis: M. Rahman

Editor: Dwi AM Laili
68230cookie-checkLawan Ego dan Kejujuran Diri Pesan Kepala Madrasah pada Upacara Hari Santri MAN 2 Tulungagung
Jangan lupa bagikan!

Related posts