Tulungagung

MANDUTA – Perwakilan humas MAN 2 Tulungagung mengikuti Pertemuan Stakeholder Kehumasan dan Sosialisasi Standar Grafis Publikasi yang digelar Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung pada Rabu, 6 Mei 2026, di aula Kemenag Kabupaten Tulungagung. Dalam pertemuan tersebut, MAN 2 Tulungagung diwakili langsung oleh Wakil Kepala Bidang Kehumasan, Dwi Asih Mundirotul Laili, yang hadir bersama pengelola kehumasan dari berbagai satuan kerja di lingkungan Kemenag Tulungagung sebagai upaya memperkuat sinergi komunikasi publik dan menyatukan standar tampilan grafis publikasi resmi di bawah naungan Kemenag Jawa Timur.

Dalam paparannya, narasumber menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar kehumasan saat ini adalah disrupsi informasi, di mana sekitar 73 persen masyarakat mengonsumsi informasi utama dari media sosial dan volume hoaks meningkat hingga 40 persen seiring dinamika tahun politik 2026. Kondisi ini membuat publik tidak lagi menoleransi birokrasi yang lambat, sehingga tuntutan transparansi instan dan respon aduan di bawah 24 jam menjadi standar baru yang harus dihadapi oleh humas Kemenag di semua level, termasuk MAN 2 Tulungagung.

Peserta pertemuan juga mendapatkan penjelasan mengenai regulasi yang menjadi rujukan kerja humas, seperti pentingnya mendukung ekosistem media berkualitas, penguatan etika komunikasi digital bagi ASN sebagai duta institusi, dan integrasi layanan digital melalui satu pintu untuk kanal komunikasi publik. Implikasi regulasi tersebut membuat humas MAN Tulungagung perlu lebih tertib dalam penggunaan logo, warna, tipografi, dan struktur konten publikasi agar selaras dengan standar grafis yang ditetapkan Kemenag Tulungagung dan Kemenag Jawa Timur.

Pada sesi berikutnya, materi berfokus pada strategi komunikasi krisis di era serba cepat. Dijelaskan bahwa kegagalan layanan atau kesalahan informasi berpotensi viral hanya dalam hitungan 30 menit, sehingga kehadiran SOP respon dalam satu jam pertama menjadi harga mati yang harus dipatuhi oleh unit-unit humas. Oleh karena itu, pengambilan keputusan dalam kerja humas didorong berbasis data dan social listening, bukan sekadar insting, serta diperkuat dengan kerja sama tokoh dan influencer yang dipilih berdasarkan integritas dan kesesuaian nilai, bukan semata jumlah pengikut.

 Tulungagung

Selain itu, peserta juga diajak memahami pentingnya humas internal, karena ASN menjadi corong utama dan penjaga narasi lembaga. Jika internal belum satu suara, dikhawatirkan akan menimbulkan kegaduhan di ruang publik saat terjadi isu sensitif. Dalam konteks MAN 2 Tulungagung, hal ini berarti setiap informasi terkait madrasah harus dikomunikasikan secara rapi, terkoordinasi, dan tidak keluar dari jalur kebijakan humas Kemenag Tulungagung.

Sosialisasi juga menyinggung kebutuhan penyelenggaraan kegiatan secara hybrid, baik luring maupun daring, sehingga penguasaan etiket digital, penggunaan platform konferensi video, dan teknik siaran langsung menjadi keterampilan yang setara pentingnya dengan penguasaan acara tatap muka. Di sisi lain, efisiensi anggaran menuntut konsep kegiatan yang “megah tapi hemat”, serta peningkatan kewaspadaan terhadap keamanan siber, terutama saat pengelolaan registrasi online kegiatan yang melibatkan tokoh agama maupun pejabat. Sensitivitas budaya pun ditekankan, karena kesalahan kecil dalam susunan acara atau pemilihan diksi berpotensi menimbulkan isu SARA di ruang publik.

Dalam konteks narasi komunikasi, peserta diperkenalkan pada strategi menghadapi era pasca-kebenaran (post-truth) dengan menonjolkan narasi yang humanis dan empatik. Kebijakan yang kompleks diimbau untuk disederhanakan dalam format singkat, seperti video 60 detik untuk platform TikTok atau Reels, dengan bahasa yang inklusif bagi kelompok rentan, difabel, dan minoritas. Contoh kasus yang dipaparkan menunjukkan bagaimana klarifikasi isu dalam tiga jam melalui infografis reaktif dapat mengubah sentimen negatif menjadi netral dalam waktu kurang dari enam jam, sehingga kecepatan dan ketepatan framing pesan menjadi kunci.

Sebagai langkah lanjutan, Kemenag Jawa Timur mendorong pembentukan tim “war room digital” yang melibatkan humas, protokol, dan unsur IT untuk memantau isu selama 24 jam. Simulasi penanganan kasus viral secara berkala, penataan ulang protokol acara, hingga penguatan gaya komunikasi pimpinan agar lebih naratif dan tidak sekadar membaca teks, menjadi bagian dari rekomendasi yang diusulkan. Single narrative atau satu pintu narasi sebelum rilis kebijakan besar juga ditekankan agar tidak terjadi simpang siur informasi di tengah masyarakat.

Tulungagung

Kepala MAN 2 Tulungagung, Muhamad Dopir, menyambut baik pertemuan stakeholder kehumasan dan sosialisasi standar grafis publikasi ini. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan keagamaan di era digital. “Sebagai madrasah di bawah Kemenag Tulungagung dan Kemenag Jawa Timur, MAN 2 Tulungagung harus hadir di ruang publik dengan cara yang elegan, akurat, dan bertanggung jawab. Humas bukan lagi sekadar mengabarkan kegiatan, tetapi menjaga marwah lembaga melalui narasi yang tertata, tampilan grafis yang rapi, dan respon yang cepat saat muncul pertanyaan atau isu dari masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa materi mengenai disrupsi informasi, standar respon cepat, hingga pentingnya social listening menjadi pengingat bagi MAN Tulungagung untuk terus berbenah. “Kami belajar bahwa integritas lembaga tidak cukup hanya dikerjakan, tetapi juga harus dikomunikasikan dengan benar. Ke depan, kami akan memperkuat koordinasi humas madrasah, menata kembali standar desain publikasi, dan memastikan setiap informasi yang keluar dari MAN 2 benar-benar mencerminkan nilai profesionalitas dan keislaman yang ramah bagi semua,” tambahnya.

Melalui keikutsertaan dalam pertemuan ini, MAN 2 Tulungagung diharapkan mampu menjadi satuan kerja yang tidak hanya aktif berkegiatan, tetapi juga cermat dalam mengolah informasi dan publikasi. Dengan dukungan Kemenag Tulungagung dan Kemenag Jawa Timur, madrasah didorong untuk terus mengembangkan pola komunikasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap teguh menjaga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan dalam setiap pesan yang disampaikan ke masyarakat.

Penulis: M. Rahman

Editor: Dwi AM Laili
58830cookie-checkMAN 2 Tulungagung Dukung Standar Grafis Publikasi Kemenag Tulungagung dan Kemenag Jawa Timur
Jangan lupa bagikan!

Related posts